BADAI PASTI BERLALU



kompasiana.com
Mohamad Tohir
Bung Eko Black yang minta

Kami bernafas di bawah naungan penuh tanya
Harus apa ini hidup?
Langkah yang slalu diterpa badai
Hampir mengampas tubuh kecil ini jatuh ke parit
Lalu kami bagun lagi dan jalan
Selama nafas masih punya dan mampu
Lalu badai menerpa lagi
Kami yang coba bertahan dalam badai derita ini
Ingin tahu betul apa arti ini hidup
Haruskah berpongah sesuka sepingin hati
Masa bodoh yang bernama moral-akhlak
Badai yang mengempas dan menerpa kami
Itu satu uji bagi tekad bulat ini
Kalau tak ridho dada kami pasti sudah hilang harapan
Lagipula tak selamanya kan badai
Badai berlalu saja
Dan kami tersenyum dan bertahan penuh ridho
29 Agustus 2007

Read More →

PUZLE ILAHI DI TENGAH LAUT


Oleh Mohamad Tohir

SAYA PERTAMA kali tahu-meskipun hanya sekilas-film ini akhir tahun lalu, dari sebuah catatan di Kompas Minggu (Desember 2012). Sejak itu saya mencoba untuk bertanya-tanya ke beberapa rental film di Bojonegoro, ternyata belum ada. Search di internet juga belum bisa, baru sebatas thriller belaka. Hingga pada akhirnya, brengsek betul, seorang kawan perempuan saya berhasil medapatkannya. Sebulan kemudian, seorang kawan lainnya (laki-laki)juga menontonnya. Saya pikir, saya yang akan menontonnya kali pertama, eh ternyata… Dan tadi malam (21 Maret 2013), atas ide cemerlang seorang kawan laki-laki saya itu, film itu ditonton bareng. Bersama kurang lebih 11 penikmat film, Life of Pi menjadi hidangan nikmat di malam minggu.
Life of Pie adalah film garapan sutradara ternama asal Taiwan, Ang Lee. Film-film Ang Lee yang pernah kutonton lainnya adalah HULK (tentang makhluk ujicoba yang dicoba hancurkan dan diciderai kemanusiaannya) dan Lust, Caution (tentang perjuangan gerilya membebaskan China dari pendudukan Jepang). Life of Pie ini memenangi Anugerah bergengsi prefilman dunia, Oscar, tahun lalu, kategori sutradara terbaik.
Life of Pie ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Yann Martel (2001). Sebagai sebuah novel, tentu saja unsur fiksi amat dominan di sini. Bila dibilang nyata, sulit dipercaya tentunya, terlebih ketika kita menyaksikan bagaimana kecelakaan laut itu hanya menyisakan seorang saja, Pi, dan beberapa binatang yang melesat, terempas, masuk pada sekoci yang membawa tubuh Pi. Amat kentara adegan itu begitu dibuat-buat.
Adalah seorang lelaki muda bernama Patel, yang gemar mengamati perilaku binatang. Terlebih, ayahnya adalah pemilik sebuah kebun binatang. Patel seperti kesirep pada binatang-binatang itu. Sampai-sampai ia tak butuh jam unutk mengetahui waktu. Gerak waktu, pagi, waktu sarapan, dan berangklat sekolah ia tandai dari perilaku binatang-binatang itu. Patel biasa dipanggil dengan Pi, yang menjadi judul film ini.
Dari binatang-biantang itu, ada satu yang kelak menjadi bidikan cerita. Adalah Richard Parker (bukan Peter Parker tentunya), seekor harimau Bengali yang pernah suatu ketika Pi ingin memberinya makan dengan tangan terbuka di kandangnya. Sangkanya, binatang itu seperti manusia, sama-sama makhluk Tuhan, punya hati dan perasaan sayang. Sang ayah menegurnya, menganggap ulahnya itu gila, dan bahwa binatang tetaplah binatang, tak punya ikatan emosi dalam kepalanya.
Suatu ketika, karena entah suatu apa, keluarga Patel memutuskan berlayar ke Kanada dan membawa semua binatang-binatangnya. Namun naas, pada malam hari di tengah samudra Pasifik, mereka dihantam badai besar. Dalam situasi kalang kabut, Pi membuka kandang-kandang binatang itu dan semua terlepas. Badai begitu besar dan akhirnya menenggelamkan semua yang ada. Yang selamat Pi seorang, dalam sebuah sekoci bersama seekor zebra. Paginya ketika badai reda, seekor orang utan datang mendekat dengan berselancar pada beberapa tandan pisang. Bertambahlah kawan Pi. Tak dinyana, seekor serigala juga ikut dalam sekoci itu, tersenmbuyi di sebuah ruang dalam sekoci itu. Juga yang lebih mengagetkan, Parker juga. Mereka berlima terombang-ambing di samudra raya tanpa arah.
Meski dalam sebuah sekoci, hukum rimba tetap berlaku. Binatang-binatang itu kerah dan menyisakan harimau Bengali itu dan Pie seorang. Ketika dua makhluk ini yang tersisa, meski dalam suasana yang mengancam, cerita fantastis, miris, menggelikan, dan mengharukan, mereka harus bersinergi bertahan hidup di tengah laut.
Pi adalah seorang spiritualis, meskipun agamanya tidak spesifik. Ia merasakan tenteram saat salat, saat membaca al-Kitab, dan berhadapan dengan Dewa Wisnu. Maka, petrualangannya di tengah samudra bersama parkerpun menjadi sebuah perjalanan spiritual. Berbagai situasi bathin dilaluinya. Kesepian karena ditinggal keluarga dan segala kepemilikannya, bencana alam yang mengancam nyawanya, ketakutan, kemarahan, kasihan, hingga situsi ketidakberatian sebagai sbuah pribadi di tengah hampa raya lautan maha luas. Ia menyapa Tuhan dalam situasi-situasi itu. Hingga tibalah ia pada situasi paling mentog, pasrah. Yakni, ketika badai menerjang lautan kembali. Ia sapa Tuhan Sang Maha Besar. Ia satukan, seperti menyusun sebuah puzle, Tuhan-Tuhan yang tercerai berai oleh agama.
Bersama Parker ia terjengkang hampir binasa, namun pda situasi itulah ia merasakan keindahan bersentuhan dan berdekatan dengan Parker. Rasa sayang, keterharuan, dan cinta karena senasib sepenanggungan muncul dalam sanubari Pi. Ia merasa tak bisa bertahan di tengah laut selama 227 hari tanpa kehadiran Parker. Bangunan jiwa itu begitu kuat tertanam dalam diri Pi. Hingga suatu ketika, ia histeris karena dikagetkan dengan kejadian yang meluluhlantakkan bangunan itu. Parker, ketika mereka terdampar di sebuah pulau, pergi begitu saja meninggalkannya. Pada akhirnya, ia kembali teringat dengan apa yang dikatakan ayahnya dulu, bahwa binatang tetaplah binatang. Ia tak memiliki emosi apapun dengan manusia.
Life of Pie mengingatkan saya pada film India era 90-an yang kerap menampilkan keselarasan manusia-binatang. Manusia dengan gajah, ular, dan kuda hidup dengan cinta kasih nampak di film-film itu. Namun Life of Pie seperti menyangkal hal itu. Hanya saja, bukan hubungan kedua makhluk beda jenis itu yang ingin dijadikan inti barangkali, melainkan bangunan spiritual. Ketersingkapan, kesadaran, yang Ilahi sifatnya, nampaknya, dari pembacaan atas Life of Pi, ternyata harus melalui berbagai situasi yang mencekam, melibatkan emosi, kemarahan, ketakutan, kebahagiaan, dan kepasrahan yang semuanya itu benar-benar optimal atau mentog.
Secara visual, Life of Pi benar-benar wonderful. Efek-efek cahaya dari ragam makhluk lautan di tengah malam berbintang sungguh memukau. Kita tak pernah sekalipun bertanya-tanya apakah semua itu buatan atau asli. Kita juga tak sesekali mengumpat seperti bila kita menonton ftv Indosiar). Semua itu hadir seakan-akan memberikan sentuhan di hati kita tentang sebuah kebesaran yang tak terukur. Ada kekuatan dengan k besar yang tak tertangkap oleh k kecil kita ketika k besar itu hadir di tengah ringkih tubuh kita yang terombang ambing di lautan maha luas.
Hanya saja, ada setitik kerinduan dari film India ketika tidak menemui tak dung tak dung dan tarian gemulainya. Sekali yang dihadirkan di film ini, tak begitu kuat, seakan hanya syarat saja. Mungkin karena ini karena faktor penggarapnya yang bukan orang India. Meskipun, di film yang juga digarap oleh non-India lainnya, kita menyaksikannya (film Oscar terbaik malah, Sumdolg Millionare, garapan Danny Boyle. Seperti film India kebanyakan, lagunyapun, Jai Ho, menjadi hits. )
Sebagai seorang penonton atau pembaca kita boleh percaya atau tidak percaya, sebagaimana yang ditawarkan Pi dalam ending film ini, kepada seorang pewawancaranya. Namun yang jelas, pengalaman batin itu tidak dapat kita tolak, sebagai situasi jiwa yang tentu saja pernah dialami oleh setiap manusia di belahan bumi manapun. Namun, apakah kita perlu mengalami jungkir balik di tengah samudra raya terlebih dahulu? Mungkin iya. Maka, kehidupan Pi di tengah laut bersama Parker itu, menjadi bahan refleksi buat kita. Om, Swaha! Eh, Amin Ya Allah!


Read More →

KETIDAKBERESAN

Mohamad Tohir

anneahira.com
TERMINAL BOJONEGORO. SUATU MALAM. 
Malam telah benar-benar matang saat sepasang suami istri turun dari bus. Yang perempuan jalan duluan diikuti lelakinya. Tak ada barang-barang bawaan berat yang membebani mereka.Yang perempuan menunjukkan wajah tak bersahabat sementara lelakinya membersitkan kelelahan. Mungkin saja sedang bertengkar atau barangkali kesal karena tadi bus mogok atau jalanan macet parah.
Atap seng bergemeletuk seperti dilempari kerikil. Semakin cepat dan keras, menimbulkan bising yang  memekikkan telinga. Ternyata hujan telah turun deras sekali. Bau basah tanah menyeruak hidung dan merasuk ke pori-pori. Dingin tapi baunya harum sekali. Mengingatkan lelaki itu pada masa kecilnya yang suka membaui jamur di tumpukan jerami di sawah kampungnya dulu kala. Ya, seperti jamur yang baru bermunculan di jerami busuk baunya. Nikmat sekali.
Terminal Rajekwesi. Tulisan di papan itu mau tidak mau harus mereka baca. Rajekwesi, rajek dan wesi, apa maksudnya? Pikir yang lelaki itu mungkin. Matanya masih melekat pada papan. Seperti nama sebuah kesatria jaman moyang. Sebuah gambar bangunan tua, candi-candi berlumut dan pendekar dengan pedang tajam mengkilat memenuhi imajinasinya.
Yang perempuan terus berjalan menuju kursi tunggu lalu menenamkan bokongnya di sana. Wajahnya cantik dan kuning bersih. Sayang sekali masih cemberut.
Kios-kios telah tutup kecuali penjual kaset itu yang juga sudah nampak berkemas mengepak barang-barangnya.
“Aduh. Setan!”umpat pedagang itu tatkala sebuah kaset jatuh dan kepingan CDnya menggelinding mendekati kursi tunggu. Sambil memungut CD itu, matanya sekilas menangkap sosok perempuan yang tengah duduk di kursi. Ia mencoba untuk memandangnya serius, tersenyum, tetapi target tak merasa diperhatikan. Penjual kaset kembali merampungkan menutup kios.
Seorang gembel tua gelagapan tatkala telinganya terhantam tetesan hujan. Ia bangun dan berjalan mencari tempat lain yang lebih aman dan kondusif.
Seorang muda kurus jongkok di bawah tiang sambil mengisap rokok. Pakaiannya rapi berseragam. Nampaknya ia petugas terminal.
Malam kian bising hingga beberapa saat hujanpun reda dan hanya menyisakan basah dan kemalasan. Si perempuan membuka mulutnya lebar-lebar memperlihatkan giginya yang gingsul. Mungkin ia mulai ngantuk, sementara guratan kemarahan masih belum hilang dari mukanya. Si lelaki masih berdiri mondar-mandir seperti sedang berfikir keras.
Malam makin menunjukkan wajah aslinya. Dingin, sunyi dan berwibawa. Suara gelonthang kaleng bekas susu terdengar amat mengejutkan. Seekor tikus yang berulah itu nampak merasa bersalah dan malu tatkala pasangan lelaki perempuan itu sama-sama memelototinya. la ngacir masuk got.
“Brengseeek…!” tiba-tiba keheningan pecah oleh umpatan si perempuan.
Lelakinya kaget dan celingukan takut-takut itu mengundang perhatian orang.
Seorang berjaket hitam berbadan gemuk berjalan penuh wibawa ke arah mereka. Mungkin ia juga petugas terminal. Sepatunya mengkilap dan parfumnya lumayan harum.
“By the way, mau pada kemana ini?” logat englisnya terdengar sengak di telinga.
“Suami istri kan?
Jangan takut. Saya bukan orang jahat kok. Santai saja. Hemmmmm…., kemalaman? Bukan orang sini ya? Sudah pernah ke Bojonegoro sebelumnya? Kalau mau cari penginapan di situ itu ada. Itu hotel. Agak amatiran dikit tapi. Tapi nggak papa juga kalau hanya mau menginap.” Tangannya menunjuk ke sebuah bangunan bertingkat di suatu arah, tak jauh dari kompleks terminal.
“Tapi ya gitu. Meski amatiran, agak lumayan harganya. Bawa surat nikah kan? Tapi jangan khawatir? Itu cuma formalitas. Biasa saja kok. Saya sendiri kadang juga heran kenapa menginap saja kok pakai mahal begitu. Hanya tidur padahal. Gimana, pada nggak kepingin jalan-jalan? Kebetulan saya ada kendaraan. Ya, secukupnya lah, kasih berapa. Ya…, lihat-lihat kota barangkali. Ada apa saja. Tapi ya begitu, betul bila dibilang begitu-begitu saja. Nggak ada apa-apanya. Tapi kalau kepingin ya nggak apa-apa kan? Sebenarnya kita itu besar. Tapi kitanya yang nggak nyadar. Banyak kok, orang-orang kita yang sukses menjadi tokoh-tokoh besar republik. Saya sendiri juga kurang begitu tahu. Konon,….” Orang itu terdiam tiba-tiba, seperti berfikir.
Lelaki dan perempuan itu diam saja, meskipun gerah dan pening dengan gelontoran kata-kata sampah itu.
“Mas, emm… nganu.. Punya ses nggak? Maaf, saya kelupaan tertinggal di pos tadi. Tapi korekannya bawa. Betul-betul lupa tadi. Susah juga. Akhir-akhir ini saya menderita penyakit lupa. Bukan akhir-akhir ini malahan, sejak muda dulu. Repotnya lagi, sering saya mboncengin istri ke pasar lantas kelupaan saya tinggal pulang. Susah pokoknya punya kebiasaan lupa. Bukan kebiasaan lho, itu penyakit…”
Lelaki itu merogoh saku celananya dan memungut satu gelintir kretek tujuh enam. Disodorkannya pada petugas merangkap tukang ojek tadi. Segera asap mengepul-ngepul bak cerobong kereta api dari mulutnya.
“Uhuk..uhuk…, Hadahhh, nikmatnya. Mas nggak ngisap sekalian. Ini, nggak bawa korek kan? Sungkan sama istrinya mungkin… Ini suami istri kan? Atau masih pacaran? Menurut saya sih nggak masalah. Yang penting rukun dan cinta damai. Nikah itu kan cuma antisipasi saja sebenarnya kalau dipikir-pikir mendalam. Toh, padahal kebersamaan itu bagaimana sih sebenarnya. Saya sendiri kadang bingung saat diskusi dengan istri tentang ini… ihwal kebersamaan tadi maksud saya. Iya kan? Manusia itu sebenarnya makhluk kesepian. Kebersamaan itu hanya ilusi sesaat saja kalau dipikir secara njlimet dan filosofis. Nggak ada itu. Pernah baca bukunya Pramudya kan? Mas dan mbak ini pasti sarjana kan? Kelihatan lho dari mukanya. Dan juga kepribadiannya. Kalau bukan sarjana ya seperti saya ini. Maunya ngoceeeeh saja. Kalau dipikir-pikir omongan saya ini sampah ya? Anggap saja seperti, maaf, dubur ayam. Adakalanya keluar telor. Adakalanya juga keluar tahi. Tapi ya banyakan tahinya tentu. Tapi betul lho, kalau pernah baca bukunya Pramudya tadi. Judulnya apa ya? Saya sendiri lupa-lupa ingat.  Pasar Malam apa begitu pokoknya.”
Tiba-tiba refleks lelaki itu mengejutkan. Dilemparkannya bungkus rokok tadi ke muka petugas atau tukang ojek tadi.
“Diam! Diaaamm…!!! Kubilang diammm!!! Pergi sana…. Pergiiiiiiii..!!!
Tiba-tiba ia tersentak dan keget dengan gertakannya sendiri yang lumayan membahana di ruangan terbuka itu. Ia melongok sekeliling dan memastikan dia sedang memarahi seseorang. Tapi sumpah, tak ada siapa-siapa di situ. Hanya gelandangan tadi yang masih asyik meringkuk di sudut sana. Ia pungut lagi rokoknya di lantai.
“Maaf, bisa dibantu?” seorang pemuda ganteng berseragam kebiru-biruan menyapanya dengan senyum manis sekali. Entah dari mana munculnya tak ada yang tahu. Si lelaki tetap terdiam. Ia takut dengan fikirannya sendiri. Jangan-jangan ilusi lagi. Ia sodorkan satu gelintir rokok pada petugas muda itu. Namun lima jari petugas genteng telah terlebih dahulu mengembang ke arahnya. Itu tandanya no smoking.
“Maaf” kata pemuda itu lalu ngeloyor dan masuk pos beberapa meter di ujung sana.
Si perempuan menyembunyikan mukanya. Mungkin ia malu sekali disangka orang lelakinya s tres.
Sedang malam makin menampakkan wajah malamnya. Tersadar juga suara binatang sahut-sahutan memecah hening dan menciptakan irama bising yang kadang-kadang indah juga.
Lelaki itu duduk di samping perempaun. Si perempuan tiba-tiba menutup mukanya dengan kedua tangannya sambil membungkuk. Sikutnya meopang pada ujung pahanya. Pundaknya bergoyang-goyang.
Si lelaki nampak kikuk dan panik. Ingin di sentuhnya pundak perempuan itu tapi tak jadi karena keburu mengggaruk-garuk rambut.
“Sudahlah. Aku benar-benar khilaf. Padahal semua sudah kupersiapkan beberapa hari sebelum take off. Sebenarnya aku malu sekali. Dari dulu aku memang suka lupa di saat-saat genting. Dan pasti ujung-ujungnya sial. Aku memang masih sering teledor dan kurang teliti. Aku suka sekali membangga-banggakan diri bak pahlawan padahal bukan. Sekarang semua telah terjadi. Mau gimana lagi? Mau nggak mau harus diterima dengan lapang dan bijak. Sulit memang. Semua tahu itu. Tapi paling tidak kita harus belajar. Apa? Belajar? Belajar kok terus? Begitu kadang-kadang aku memprotes diri sendiri. Mengolok-ngolok kepura-puraanku untuk tegar dan pandai menerima kesialan dan ketidakberesan. Tapi masuk akal juga. Kita tak bisa disalahkan sepenuhnya. Lha wong masalahnya adalah lupa. Lupa mau diapakan lagi. Lupa ya tidak ingat. Itu mutlak. Tak bisa diganggu gugat. Tak bisa diutak-utek lagi dengan teori-teori filsafat apapun. Orang lupa tak bisa disalahkan. Tuhan saja, kata guruku dulu….dulu sekali, mencabut pena hukumnya dari orang yang tidur, gila dan lupa.”
“Hanya kadang aku tidak percaya. Ini bila bayang-bayang angka delapan ratus juta teringat-ingat. Delapan ratus juta! Ya, benar-benar delapan ratus juta. Bukan khayalan bukan mimpi. Itu duwit. Uang. Dengan itu semualah yang membuatku bisa bermimpi”
Lelaki itu terdiam. Ia sungguh menyesal. Rentetan peristiwa seperti menertawainya. Dari pertengkaran dengan orangtuanya sendiri dan juga mereka yang dibayangkan menjadi mertua kelak. Dari kerja membabi butanya bertahun-tahun hingga berhasil mengumpulkan delapan ratus juta. Mimpi-mimpi indahnya untuk hidup berdua saja di sebuah kampung di tengah hutan. Di sana ia akan membangun istana cinta sejati.
“Tapi, kalau dipikir lagi, apakah rencana kita sudah benar-benar sempurna atau hanya ilusi sebenarnya lucu juga… Bayangkan, hidup sendiri di hutan. Ha-ha-ha-ha…!!! Tapi ingat, cintalah yang membuat itu tetap rasional. Ya…, kalau berfikir seperti Bapak tadi sih (ia teringat petugas atau tukang ojek dalam khayalannya tadi)….entahlah, nggak penting siapa yang bilang… sebenarnya manusia itu hidup sendiri, kita sah-sah saja. Benarkan…? kadang-kadang kita sering ribut sendiri gara-gara suara-suara di luar diri sebagai respon atas diri kita yang seharusnya itu nggak penting. Bukannya antipati sosial, tetapi batasannya juga harus dipikir. Kan manusia selain makhluk sosial juga makhluk individu. Begitu kan? Harus proporsional ini. Coba pikir lagi, hubungan sosial yang ada paling banter, kalau mau jujur, ya hanya sebagai lantaran untuk memenuhi kebutuhan indvidu. Jadi masuk akal kan, kalau manusia itu sebenarnya makhluk yang sendiri. Aku kadang juga berfikir banyak ketika mau memutuskan kita akan menikah apa tidak. Kadang menikah itu justru menjadi lembaga penuh basa-basi. Dengan alasan melanggar komitmen untuk kebersamaan, perempuan seenaknya sendiri. Lakinya juga sama. Tapi ya sudahlah, yang penting hidup. Betul nggak?”
“Sekarang yang penting kita bisa istirahat dan tidur. Itu kalau kita bisa tidur. Semoga ada wahyu atau mukjizat datang. Semoga kan apa salahnya? Masih sah kan berharap? Aku ada teman di sini. Tapi aku tak tahu rumahnya. Semoga nomornya masih ada. Eh.. Eh.. Masak.. (suaranya tinggi sekali).. Asem! Aduh… Astagfirulah… hape juga ketinggalan… ada di tas… Aaarrrgghh…!!!!” lelaki itu memukul kepalanya sendiri.
Perempuannya masih menunduk.
“Sebenarnya aku juga ingin menangis. Bukan perempuan saja lho yang sah dan galibnya menangis. Lelaki sama. Ini adalah soal mempertahankan eksistensi kemanusiaan. Kadang aku rasa menangis itu cengeng dan lebay. Itu pendapat mereka orang bodoh yang tak pernah makan pendidikan. Dosenku saat di Singapura dulu mengatakan bahwa menangis itu sehat secara psikologis. Justru yang antimenangis itulah yang perlu dipertanyakan kewarasannya. Seperti lagunya dewa sajalah; menangislah jika ingin menangis”.
Perempuan itu mengangkat muka. Tak ada lagi guratan kesedihan atau kemarahan di mukanya. Bahkan nampak sumringah. Penuh senyum kemalu-maluan. Cantik sekali.
“ Kau mau bilang saya tak waras?” Akhirya juga bicara.
“Ge er”
“Menurutku, memang sudah wajarnya saat celaka dan menderita kita menangis. Dan sebaliknya amat tidak wajar bila kita ternyata malah tertawa. Tapi satu, ketidakwajaran tak bisa serta merta dipandang sebagai keburukan dan dosa. Ketidakwajaran berarti juga istimewa, kreatif, nyeni dan arif. Seperti saya, tadi saya tertawa. Bukan menangis. Kau salah. Menurutku para filosof dulu juga demikian. Orang yang ekyuya nggak sampai, akan bilang dia sinting. Padahal nggak kan?”
Seekor kucing tiba-tiba ngosel di kaki lelaki itu. digerakkannya kakinya. Si kucing makin kesenengan dan mulai menggigit pelan jempol jari-jari kaki. Dikumpulkannya ludah lantas menyemprotkannya agak jauh di samping kursi. Si kucing segera berlari mengejar dan langsung menjilatinya dengan lidahnya yang merah.
“Kadang aku kepikiran kenapa tak menjadi kucing saja”, si lelaki ngomong lagi, “atau kadal, atau semut, kodok, cicak, atau apa gitu. Betul apa katamu. Rasanya nikmat sekali menertawakan penderitaaan, kesialan dan ketidakberesan. Dan binatang nggak punya potensi untuk begitu”
“Berapa kali Bapakku bilang kau binatang hah?” Perempuan itu ingat betul, seringkali Bapaknya memaki laki-laki itu dengan monyet, tikus, lowo, nyabik.
“Ha-ha-ha-ha-aha..”
“Kok malah tertawa?”
“Aku menerima itu. Dan juga menertawakannya. Kalau aku marah dan tiba-tiba ngamuk menjotosnya, bukankaah tak ada beda denghan binatang yang tiba-tiba nyakar saat disentuh buntutnya? Sekarang coba pikir, orang yang bilang orang lain binatanglah sebenarnya yang…”
“Yang apa?”
“Yang….’”
“Yang apaaaaa….??”
“Yang pintar…
Paling tidak, secara tidak langsung telah memaksaku untuk berfikir keras. Aku binatang atau bukan.”
“Sudahlah. Gombal. Sebenarnya kita hanya menghibur diri. Ketidakberesan ya ketidakberesan. Titik.”
Lelaki itu manggut-manggut. Dicabutnya sebatang rokok dari bungkusnya. Korek bensol membakar ujung rokok lalu asap tebal mengepul dari mulutnya.
“Coba saja kalau duwit itu tak ketinggalan. Kau akan tetap berfikir begitu? Biasanya kau kethul. Pada hakekatnya duwit memang jauh lebih berarti, nyata dan rasional ketimbang kebenarea dan kebijaksanaan.”
Tiba-tiba sebuah bus masuk terminal lalu mengerem mendadak. Seorang kondektur keluar dari dalamnya dan langsung berlari tergopoh-gopoh ke arahnya, seperti kondektur yang tadi ditumpangi busnya.
“Punya Anda?” Sebuah tas besar dibanting ke hadapan lelaki dan perempuan itu.
Lelaki itu berdiri melongo. Diperiksanya apakah masih utuh. Sebuah bungkusan besar plastik hitam diambilnya dari dalam. Ia mencoba mengingat-ingat. Ternyata ia benar-benar telah salah sangka meninggalkan dueit itu di rumah. Ia kagum dengan fikirannya sendiri. dihitungnya uang itu.
“Lhoh, kok... Lhoh, kok… Ini… Apa-apaan ini? Kok… Ini duwit atau…? Kok tambah banyak? Jadi dua em. Padahal kan? Kok bisa….? Ini mukjizat” pekik lelaki itu kegirangan.
“Anda mau berapa? Ini…,” diulurkannya beberapa lembar gambar mawar secara serampangan, “nggak pakai sungkan. Terima saja. Ini masih banyak kok. Satu juta juga nggak apa-apa. Sungguhan ini. Aku kaya sekarang. Sebentar lagi pasti kesampaian mau mbangun istana.”
Yang perempuan hanya memandang lelaki itu yang tiba-tiba ngomong sendiri. Ia mencoba untuk menerima ketidakberesan disampingnya hingga akhirnya lelaki itu terduduk sendiri. 
Asap rokok keluar dari mulut lelaki itu. Matanya memejam menikmati isapan terakhir. Asap-asap itu mengepul, berkumpul, mengurai, dan lagi-lagi membentuk wajah-wajah bapaknya, maknya, mertuanya, dan terakhir uang.

Kampungbaru, 2012

Read More →

Páginas

 

Copyright © Sebatas Menengok | Powered by Blogger | Template by 54BLOGGER | Fixed by Free Blogger Templates